Jumat, 07 Desember 2012

Resensi Novel "Edensor"

 
1. Identitas Buku

Judul buku             : Edensor
Penulis                   : Andrea Hirata
Cetakan                  : Pertama, Mei 2007
Penerbit                  : PT. Bentang Pustaka
Halaman                 : 294 halaman
Ukuran buku          : 20,5
Kategori                 : Novel

2. Biografi Pengarang
           
Nama Andrea Hirata Seman Said Harun kelahiran 24 Oktober ini melejit seiring kesuksesan novel pertamanya, Laskar Pelangi. Selain Laskar Pelangi, lulusan S1 Ekonomi Universitas Indonesia ini juga menulis Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov. Keempat novel tersebut tergabung dalam tetralogi.
Edensor merupakan novel ketiga dari tetralogi laskar pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Dia adalah penulis muda yang tidak memiliki latar belakang jurnalistik tetapi memiliki kemampuan untuk menguak berbagai realita kehidupan.
Andrea Hirata yaitu penulis muda yang mampu menyarikan berbagai realita kehidupan menjadi sebuah tulisan yang apik dan mampu menggugah ketersadaran nurani setiap pembacanya. Hal tersebut sebagaimana yang telah disampaikan oleh seorang sastrawan “Novel ini kian meneguhkan kehadiran tetralogi laskar pelangi sebagai karya unggul yang pasti disukai pembaca” (Andrea, 2007).
Setelah menyelesaikan studi S1 di UI, pria yang kini masih bekerja di kantor pusat PT Telkom ini mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di Universite de Paris, Sorbone, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom.
Sukses dengan novel tetralogi, Andrea merambah dunia film. Novelnya yang pertama telah diangkat ke layar lebar, dengan judul sama yaitu Laskar Pelangi pada 2008. Film ini menjadi film yang paling fenomenal di tahun 2008. Dan jelang akhir tahun 2009, Andrea bersama Miles Films dan Mizan Production kembali merilis skuelnya, Sang Pemimpi.

3. Sinopsis
Novel yang sangat menakjubkan, mengharukan, dan penuh makna. Kita akan dibuat terkesima ketika membacanya. Buku ini berkisah tentang dua anak melayu Belitong yaitu Ikal (Andrea Hirata) dan Arai yang mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk melanjutkan sekolahnya di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis.
Setelah berhasil memperoleh beasiswa ke Perancis, Ikal dan Arai mengalami banyak kejadian yang orang bisa sebut sebagai kejutan budaya. Banyak kebiasaan dan peradaban Eropa yang berlainan sama sekali dengan peradaban yang selama ini mereka pahami sebagai orang Indonesia, khususnya Melayu.
Sungguh luar biasa keterbatasan ekonomi yang mereka alami tidak menghapus semangat perjuangan mereka untuk selalu berusaha mencapai impian. Meskipun mereka tinggal di daerah pedalaman yang serba ketinggalan, tapi semangat mereka untuk tetap bersekolah tidak pernah putus.
Novel ini terbagi menjadi 5 mozaik. Secara umum novel ini banyak menceritakan tentang masa-masa SMA Ikal dan Arai, aktivitas setelah mereka lulus SMA, aktivitas saat mereka kuliah di Prancis dan pengalaman petualangan merekadi benua Eropa dan sebagian Afrika.
Pada mozaik pertama menceritakan awal kelahiran Ikal. Pertemuan pertama yang mengenalkan Ikal pada diri sejatinya dan telah menguatkan tekadnya untuk menjelajahi separuh  belahan dunia, berjalan di atas mimpi-mimpi dan menemukan cinta yang sesungguhnya, dia adalah Weh. Semasa kecilnya Ikal sangat nakal, sampai-sampai sudah beberapa kali mengganti namanya.
Di mozaik kedua bercerita tentang keberangkatan Ikal dan Arai (sepupu Ikal) ke Prancis untuk melanjutkan studi mereka. Akhirnya dari mimpi-mimpi Ikal yang bisa dibilang tidak mungkin untuk anak melayu Belitong miskin yang dulu bersekolah di gubuk kopra yang juga berfungsi sebagai kandang kambing, untuk melihat keindahan kota Paris secara langsung tercapai juga dan yang pasti adalah mimpi untuk menginjakkan kaki di almamater terhebat Sorbonnne.     
Mozaik ketiga menceritakan tentang aktivitas kuliah Ikal dan Arai di Prancis. Kehidupan bangsa Eropa yang terkenal dinamis dan efisien telah menunjukan pada berbagai hal betapa rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Namun hanya dengan tekad yang kuat, akhirnya dapat menghantarkan mereka menjadi bagian dari sistem pendidikan modern.     Ikal dan Arai akan memulai perjalanan yang lebih menegangkan dibandingkan dengan pergi ke Paris dan bersekolah di Sorbonne. Dengan penuh semangat mereka siap untuk melanjutkan perjuangan menggapai mimpi, sebagaimana yang dikatakan Ikal “Berkelana tidak hanya membawaku ke tempat-tempat yang spektakuler sehingga aku terpaku,  tak pula hanya memberiku tantangan ganas yang menghadapkanku pada keputusan hitam putih, sehingga aku memahami manusia seperti apa aku” (2007: 229).
Pada mozaik keempat bercerita tentang petualangan Ikal dan Arai dalam menaklukan Eropa-Afrika. Awal petualangan mereka yaitu terdamparnya Ikal dan Arai di sebuah desa Rusia. Karena sejak kecil kesusahan melekat pada diri mereka, tampaknya kesulitan yang menghadang pun dianggap sebagai pengalaman yang tak akan terlupakan.
Dan pencarian Ikal akan cinta masa kecilnya yaitu A Ling telah membawanya melintasi rute perjalanan yang panjang. Sekuat apapun upaya untuk menemukan sesuatu dan pada titik akhir upaya tersebut masih belum berhasil, sesungguhnya kita sedang dihadapkan pada berbagai realita tentang diri kita.
Yang terakhir mozaik kelima bercerita tentang akhir dari petualangan Ikal dan Arai menaklukan Eropa-Afrika. Setelah Ikal dan Arai selesai menjelajahi Eropa sampai Afrika, Arai-pun jatuh sakit dan pulang ke Indonesia. Sedangkan Ikal melanjutkan kuliahnnya di Inggris karena guru yang membimbing Ikal pindah ke Inggris untuk pensiun. Dan akhirnya, Ikal melihat pemandangan yang sering dilihatnya didalam khayalannya sendiri, tetapi sekarang pemandangan itu nyata, dan pemandangan itu adalah Edensor. 



Pembahasan

1.    Analisis Unsur Instrinsik
a. Tema
Banyak definisi tentang segala sesuatunya. Begitupun definisi mengenai tema banyak yang mengemukakannya, seperti halnya yang diungkapkan oleh seorang tokoh masyarakat “...sesuatu yang menjiwai cerita atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Dalam tema tersirat amanat atau tujuan pengarang menulis cerita” (Andai Yani, www.id.shvoong.com).
Tema juga merupakan dasar cerita yang paling penting dari seluruh cerita. Novel ini mampu menggugah ketersadaran nurani setiap pembacanya, sehingga pantas saja apabila novel ini bertemakan tentang pencarian diri dan cinta. Semua itu telah membawa kedua tokoh novel ini melintasi rute perjalanan yang panjang.
  b.   Alur
Alur itu sesuatu yang tak nampak dan merupakan dasar suatu cerita yang paling penting. Adapun definisi lain mengenai alur, dalam suatu buku yakni “Alur merupakan bagian rangkaian perjalanan cerita yang tidak tampak” (Adi, 2004: 65).
Dalam novel ini diceritakan mulai dari awal Ikal dilahirkan sampai ia menggapai kesuksesannya. Namun, pada pertengahan cerita diceritakan masa-masa yang lalu, misalnya pada saat Mak Birah menceritakan tentang detik-detik kelahiran Ikal padanya. Sehingga dalam cerita ini beralurkan campuran.
c.  Sudut pandang
Sudut pandang pengarang dalam novel ini yaitu sebagai orang pertama atau tokoh pertama yang berperan sebagai aku (Ikal). Si penulis berperan menjadi karakter dalam tulisannya. Baik berperan dalam satu karakter dari awal sampai akhir cerita, maupun berpindah-pindah peran dari satu karakter ke karakter lain. 
d.   Gaya bahasa
Gaya bahasa atau stail adalah ‘kekuatan’ penulis.1 Itulah salah satu definisi menurut seorang koki selebriti yang juga seorang penulis.
Edensor, seperti dua novel sebelumnya yaitu Laskar Pelangi dan Sang  Pemimpi, memiliki karakteristik sendiri yang bisa diujadikan sebagai tola ukur penulisnya. Salah satu karakteristik tersebut adalah ditemukannya bahasa-bahasa metafora ilmiah. Definisi metafora yaitu “bahasa kiasan yang tidak  menggunakan kata pembanding” (Dawud, 2004: 164).
Bahasa metafora juga merupakan bahasa yang membandingkan sesuatu hal dengan hal yang lain tanpa mempergunakan kata-kata penghubung sebagai pembanding. Adapun contoh majas metafora yang digunakan dalam novel Edensor yaitu “...Langit adalah kitab yang terbentang...” (2007: 9).
e.    Latar (Setting)
Latar (seting) adalah tempat, waktu dan suasana (di mana, kapan dan bagaimana) suatu cerita terjadi. Latar sebenarnya memberikan informasi yang sangat penting tentang keadaan masyarakat dimana ceritera itu terjadi pada waktu itu.
a)    Tempat
       Novel Edensor ini mengawali ceritanya di sebuah pedalaman atau daerah yang sangat terpencil, sehingga kemungkinan besar jauh dari keramaian kota. Setting tempat yang diambil dalam cerita ini diantaranya yaitu sebuah desa yang sangat terpelosok disanalah tempat dimana ikal dilahirkan hingga ia lulus SMA, benua Eropa dan sebagian Afrika yakni tempat dimana Ikal dan Arai memulai perjalanan hidup untuk menggapai impian mereka.
b)   Waktu
Waktu yang dipergunakan dalam cerita ini sebenarnya sangat panjang, bahkan berhari-hari, berminggu-minggu, siang hari dan sampai larut malam. Dalam novel ini juga banyak waktu-waktu yang dianggap penting atau moment yang tidak akan dilupakan.
c)    Suasana
Berbagai suasana menyelimuti para tokoh dalam novel ini, yang paling utama yaitu tokoh Ikal dan Arai. Suasana memalukan, kedinginan, pucat, hangat, sedih, sunyi, dingin menyelimuti kedua tokoh itu pada saat mereka menginjakan kaki di perbatasan Belanda.
f.   Sudut pandang
Sudut pandang pengarang dalam novel ini yaitu sebagai orang pertama atau tokoh pertama yang berperan sebagai aku (Ikal). Si penulis berperan menjadi karakter dalam tulisannya. Baik berperan dalam satu karakter dari awal sampai akhir cerita, maupun berpindah-pindah peran dari satu karakter ke karakter lain.
g. Penokohan
 Keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh.2 Itulah definisi penokohan menurut salah satu buku. Yang diangkat pengarang dalam karyanya adalah manusia dan kehidupannya. Oleh karena itu, penokohan merupakan unsur cerita yang sangat penting. Melalui penokohan, cerita menjadi lebih nyata dalam angan pembaca.
Penokohan juga merupakan cara penulis menggambarkan tokoh-tokoh dalam ceritanya, sehingga diketahui karakter atau sifat para tokoh. Watak atau tokoh dalam cerita terbagi menjadi 3 macam, yaitu:
1. Protagonis, yaitu lakon atau yang biasanya memerankan tokoh utama dan muncul untuk menyelesaikan berbagai masalah. 
2. Antagonis, yaitu tokoh yang selalu pro kontra dalam berbagai cerita, dan selalu melawan tokoh protagonis.
3. Tritagonis, yaitu tokoh yang selalu pembawa damai. Tokoh ini tidak memiliki sifat  protagonis dan antagonis.
Pada novel ini banyak sekali tokoh yang berperan dalam berbagai watak. Perwatakan ini tentu saja membuat angan pembaca menjadi lebih nyata. Tokoh yang berperan diantarnya ada tokoh utama dan tokoh sampingan.
*  Ikal
Tokoh utama dalam novel ini yaitu Ikal. Semasa kecilnya dia sangat nakal sekali. Karena kenakalannya itu, banyak sekali masalah-masalah yang menimpanya. “Kalau terompah Wak Haji pindah ke langit-langit dan beduk bertalu-talu bukan jam salat, pasti aku yang dicari karena memang aku pelakunya” (2007: 18).
Ikal sempat beberapa kali mengganti namanya karena kenakalannya itu. Alasan ia sering mengganti namanya disebabkan kenakalannya dan orang-orang melayu pedalaman beranggapan nama itu merupakan aura seseorang. jika seorang anak memiliki tabi’at yang kurang baik, pasti hal yang pertama diteliti atau diselidiki adalah nama.
Beranjak dewasa Ikal berubah menjadi sosok pemuda yang pemberani, pekerja keras, keras kepala, setia dan labil. Perjuangannya dalam mencari apa yang ia cari dihiasi dengan penuh semangat walau pada akhir kesuksesannya hampir putus, namun semua itu dapat ia lewati dengan baik.
Hal yang sangat menarik ketika Ikal menemukan Edensor, yaitu kota yang menjadi obsesinya itu ia dapatkan saat berada pada kondisi keterpaksaan. Keterpaksaan yang harus ia pilih yaitu pindah dari Sorbonne, Paris, Prancis.
Sungguh sosok laki-laki yang hidupnya penuh dengan semangat dan pantang putus asa dalam menggapai impian meski banyak rintangan yang menghadang, sebagaimana kutipannya “Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains” (2007). 
*  Arai
Selain tokoh Ikal yang pemberani dan hidupnya penuh dengan tantangan, tokoh pemuda yang bijaksana, dewasa, kaya akan kejutan, penyemangat juga penyayang, “Arai membuka syalnya, melilitkannya di leherku. Ia membuka koper, mengeluarkan semua pakaian, di balutkannya berlapis-lapis di tubuhku” (2007: 63-64).
Arai adalah sepupu Ikal sekaligus teman seperjuangannya dalam menggapai impian dan menjelajahi benua Eropa-Afrika. Tokoh Arai ini yang selalu setia berjuang bersama sahabatnya yaitu Ikal, baik berjuang dalam pencarian diri maupun pencarian cinta sejati mereka.
*   Weh
Weh adalah sang antagonis yang menekuni hidupnya seorang diri tanpa ada yang menemani. Menurut Ikal Weh itu “...mutiara dalam hidupku adalah lelaki yang mengutuki hidupnya sendiri” (2007: 1). Weh itu pandai berlayar dan pintar dalam membaca rasi bintang, selain itu dia juga pintar membaca arah mata angin. Baginya weh itu seorang guru yang memberi pelajaran besar untuk mengenal dirinya sendiri.
*   Mak Birah
Mak Birah lah yang dulu membantu Ikal dalam kelahirannya. Dia seorang dukun beranak yang amat menghargai kehidupan. Bagi Ikal Mak Birah adalah einstein kedua setelah Weh. Mereka yang telah mengenalkan Ikal pada dirinya sendiri. Berkat Mak Birah Ikal menjadi sadar akan arti hidup dan dia pun lebih menghargai kehidupan. 
*   Tokoh lainnya
Selain Arai, Weh, dan Mak Birah banyak tokoh lainnya yang sangat berperan penting atas segala sesuatunya bagi Ikal. Diantaranya Dr. Michaela Woodward seorang Keynesian, pejabat Uni Eropa yang menjadi penentu akhir beasiswa. Ada juga Famke Somers penerima besiswa Uni Eropa, mahasiswi Amsterdam School of The Arts yang mendalami street performance yang juga seorang model. Kemudian Simon Van Der Wall Landlord atau pemilik kost tempat Arai dan Ikal singgah sementara di Brussel. Laki-laki dingin yang birokratis. Dan Pak Toha laki-laki tua dari Purbalingga yang karena peristiwa 65 menetap di Rumania dan belum pernah kembali ke Indonesia.Sebuah perjumpaan yang tak terduga, saat Arai dan Ikal menjelajah Eropa. Mereka juga orang-orang yang senantiasa terlibat dalam perjalanan panjang Ikal sampai dia menemukan kesuksesan.
Masih banyak juga tokoh lainnya yaitu teman-teman Ikal sejak ia kecil sampai tumbuh menjadi pemuda yang sukses. Berkat dukungan mereka juga, akhirnya Ikal dan Arai menjumpai kesuksesan dan mimpi-mimpi mereka yang diimpikan sejak dulu.
h.  Amanat
Kita dapat mengambil banyak pelajarandari novel yang berjudul Edensor ini. Dalam novel ini ditulis bahwa jika kita ingin menggapai cinta atau mempunyai mimpi, maka kita harus memperjuangkan mimipi tersebut dan berusaha pantang menyerah untuk meraihnya.
Novel ini mengingatkan kita bahwa menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tidak ada hal yang sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Mengingatkan pula bahwa kenakalan-kenakalan masa kecil kita, pada suatu saat akan menimpa kita kembali atau kita akan menuai karma.
Dan bermimpilah setinggi-tingginya karena Tuhan akan mendengar dan kelak pasti dikabulkan.
 2. .   Analisi Nilai Budaya
Nilai sosial yang terkandung dalam novel ini sangat menggugah para pembaca, sehingga lebih tertarik untuk membacanya. Sikap sosial antara tokoh yang satu dengan yang lainnya, maupun terhadap lingkungan sekitar sangat baik dan patut untuk dicontoh.
Nilai budaya nyatanya sangat melekat sekali pada diri mereka atau para tokoh. Mereka sangat menghargai sekali terhadap apa yang telah menjadi kebiasaan dalam berbudaya.
Ø  Budaya menuntut ilmu
“Langit adalah kitab yang terbentang” (Andrea, 2007). Langit dalam hal ini mewakili alam, tempat dimana manusia hidup. Sementara kitab yang terbentang dapat diartikan sebagai sumber ilmu yang diperuntukkan bagi seluruh makhluk yang ada di bawah naungannya (langit). Jika direlasikan dengan kebudayaan, khususnya Minangkabau, maka ungkapan tersebut tak jauh artinya dengan alam takambang jadi guru. Jadi dapatlah dilihat, bahwa budaya dimana alam dijadikan sumber pengetahuan bukanlah semata dimiliki orang Minangkabau, tetapi juga di punyai oleh masyrakat Belitong.
Ø  Pentingnya sebuah nama
Kebiasaan pemilihan nama juga di ungkapkan dalam Edensor. Bagi masyarakat melayu, nama adalah sesuatu yang sakral. Jika ada yang salah dengan perilaku seseorang maka nama adalah hal pertama yang disalahkan karena bagaimanapun nama merupakan cerminan dari orang yang menyandangnya. “Jika tabiat anak tak beres, pasti namanya yang pertama diselidiki” (Andrea, 2007: 17).


Kesimpulan

Secara umum novel ini sangat menarik dan menggugah para pembaca untuk membacanya. Ketertarikan ini dilihat dari covernya yang memiliki ilustrasi gambar menarik dan penuh teka-teki, sehingga membuat penasaran para pembaca yang akhirnya mau untuk membaca. Novel ini juga menyajikan ilustrasi gambar pada ceritanya sehingga lebih menarik.
 Novel ini hampir mendekati sempurna. Hanya dalam judul, novel ini berjudulkan suatu kota yang tidak nyata dalam arti hanya sebuah khayalan atau obsesi saja. Padahal akan lebih seru kalau judulnya, suatu kota yang benar-benar nyata.
Novel Edensor ini novel yang sangat menarik dan banyak memberi kita banyak pelajaran bagaimana memperjuangkan sebuah impian itu. Novel ini bertemakan tentang perjuangan, pencarian jati diri dan cinta. Dalam cerita ini terus diceritakan perjalanan tokoh, sehingga beralurkan maju. Tetapi dalam pertengahan juga diceritakan masa-masa yang telah berlalu, pada akhirnya novel ini beralurkan campuran.
Pengarang dalam cerita ini sebagai orang pertama.dia menggambarkan dirinya sebagai tokoh utama, yaitu Aku (Ikal). Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sangat berkarakter dan dapat menggugah ketersadaran nurani hati pembaca. Bahasa yang digunakan yaitu bahasa metafora ilmiah dalam arti bahasa yang membandingkan sesuatu.
Latar tempat yang diambil yaitu tempat dimana kedua tokoh yaitu Ikal dan Arai melakukan penjelajahan untuk mendapatka impian mereka yaitu benua Eropa-Afrika. Selain itu daerah pedalaman pun menjadi latar tempat cerita ini yaitu tempat dimana Ikal berasal.
Tokoh-tokoh dan juga penokohan dalam cerita ini sangat menarik dan banyak perwatakan positif yang dapat dicontoh. Novel ini menggambarkan perwatakan yang berbagai macam watak. Namun watak yang paling ditonjolkan dalam novel ini yaitu watak tokoh Ikal dan Arai yang mempunyai semangat juga tekad yang kuat dalam menggapai impian.
Watak mereka yang gigih, pantang berputus asa, keras kepala akhirnya dapat mengantarkan mereka pada gerbang kesuksesan, yaitu gerbang dimana yang mereka impikan sejak dulu semasa kecil. Tokoh-tokoh novel ini benar menggugah hati nurani pembaca.




Daftar Pustaka

Somad, Adi, Abdul (dkk). 2008. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia Kelas IX.
Jakarta: Pusat Perbukuan.
Abdul Somad, Adi (dkk). 2004. Berbahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Dawud. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan.
Hirata, Andrea. 2007. Edensor. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.
_______KBBI. 2003.
Tohari, Ahmad. 2007. Edensor. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.
(2007). Gaya bahasa. From http://norzailina.wordpress.com.
(2010). Buku Rangkuman. From http://id.shvoong.com.


Poskan Komentar